Resume cerita gadis pantai

Judul buku: Gadis Pantai

Pengarang: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Tahun terbit: 2005 (cetakan kedua)

Pramoedya merupakan salah satu sastrawan terbaik yang dimiliki Indonesia. Ia telah mendapatkan berbagai penghargaan dari karya-karyanya. Bahkan ia juga beberapa kali masuk menjadi nominasi penghargaan nobel sastra, penghargaan yang cukup bergengsi dalam dunia internasional. Kebanyakan dari novel Pram ini mengambil latar sejarah, seperti masa penjajahan belanda atau masa penjajahan jepang di Indonesia. Salah satu novel yang ditulisnya dengan mengambil latar sejarah, yaitu novel gadis pantai.

Novel ini menceritakan tentang feodalisme yang terjadi di masyarakat jawa pada saat ini. Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang gadis remaja yang tinggal di dekat pantai di daerah Rembang, Jawa Tengah. Gadis berusia empat belas tahun ini terlahir dari keluarga nelayan. Gadis itu merupakan gadis yang cukup cantik di kampungnya, memiliki tubuh mungil, kulit langsat, dan mata sipit. Karena hal itulah, seorang pembesar di Jawa Tengah.

Pada suatu hari datang seorang utusan dari pembesar tersebut yang menyampaikan pesan kepada orang tua gadis pantai bahwa bahwa pembesar tersebut berniat meminang gadis pantai. Karena keadaan orang tuanya yang cukup miskin mmbuat mereka sulit untuk menolak permintaan tersebut. Orang tuanya gadis pantai meyakinkannya bahwa gadis pantai akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik apabila ia mau menikah dengan pembesar tersebut.

Akhirnya dengan umurnya yang masih sangat belia ia harus dipinang oleh salah satu dari pembesar Jawa Tengah pada saat itu, dan harus rela diboyong ke Kota. Gadis pantai juga harus rela meninggalkan kehidupannya sebagai anak nelayan, ia tidak akan bisa lagi melakukan aktivitasnya yang telah ia lakukan sejak kecil, seperti menjahit jala, menumbuk udang kering, berlarian ke pinggir pantai, dan bergurau dengan teman-temannya.

Meskipun ia adalah menjadi perempuan utama di gedung tersebut, namun gais pantai tidak bebas melakukan apapun sesuai dengan kemauannya sendiri. apapun yang ia lakukan harus seizin suaminya. Gadis pantai harus tunduk dan patuh terhadap apa yang diprintahkan oleh suaminya.

Setelah beberapa bulan ia tinggal di kediaman bangsawan itu, dia baru menyadari bahwa ia dinikahi oleh bangsawan tersebut bukan sebagai istrinya, namun hanya sebagai istri percobaan dari bangsawan tersebut di rumah besar itu ia ditemani oleh beberapa pelayan, ada satu pelayan yang cukup dekat dengannya, seorang perempuan tua yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Ia akhirnya hamil dan melahirkan, ia melahirkan seorang anak perempuan. Bendoro (suami gadis pantai) tidak terlihat suka dengan anak perempuan yang telah dilahirkan oleh gadis pantai. Ia lebih menyukai anak laki-laki dari pada anak perempuan.

Setelah gadis pantai melahirkan, bendoro mengutus suruhan ke rumah orang tua gadis pantai dan memberitahukan kepada orang tuanya untuk menjemputnya. Gadis pantai diusir keluar dari rumah bendoro, ia dipaksa keluar tanpa membawa serta anak yang baru tiga bulan lalu ia lahirkan.

Akhirnya dengan berat hati ia harus meninggalkan kediaman bendoro. Ia berkata pada bapaknya tidak ingin pulang ke rumah di kampung nelayan. Ia akan sangat malu apabila pulang ke kampung halamannya, walaupun sebenarnya ia sangat merindukan kampungnya.

Begitulah Pram menggambarkan kehidupan feodalisme di masyarakat Jawa pada saat itu. Ia menggambarkan dengan sangat menarik jalan cerita dalam novel gadis pantai ini, tentang seorang gadis miskin yang dipinang oleh bangsawan yang memiliki kekayaan dan kekuasaan.

Ia juga menggambakan bagaimana ketertindasan yang dialami oleh perempuan dengan sangat menarik. Novel ini sebenarnya masih ada kelanjutannya, namun karena kekejaman pada masa Orde Baru, maka beberapa dokumn dan novelnya Pram telah dihancurkan.